PURWODADI, (09/03/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi menerima kunjungan dari Yayasan Persada Moro 38 dalam rangka penjajakan dan rencana survei pengembangan program pemanfaatan kawasan hutan produksi berbasis ekonomi sirkular kehutanan. Program ini dirancang terintegrasi antara industri energi biomassa dengan kegiatan rehabilitasi lahan pasca tebang di wilayah kerja KPH Purwodadi.
Kunjungan tersebut berlangsung di Kantor Perhutani KPH Purwodadi pada Senin (09/03) dan diterima langsung oleh Administratur KPH Purwodadi Untoro Tri Kurniawan beserta jajaran manajemen. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk membangun sinergi dalam mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya hutan secara berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi.
Dalam rencana kegiatan tersebut, tahapan awal akan diawali dengan pelaksanaan survei lapangan pada beberapa lokasi kawasan hutan produksi di wilayah KPH Purwodadi. Survei ini bertujuan untuk melakukan identifikasi potensi ketersediaan biomassa serta residu tebangan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi terbarukan.
Selain itu, tim juga akan melakukan kajian kesesuaian lahan untuk pengembangan sistem agroforestry yang dapat dikombinasikan dengan pemanfaatan biomassa. Kajian tersebut meliputi analisis aspek teknis, kondisi aksesibilitas lokasi, serta potensi pengembangan sistem logistik dan rantai pasok bahan baku agar kegiatan dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Tidak hanya itu, hasil dari survei dan kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan rencana teknis kerja sama antara Perum Perhutani dan pihak Yayasan Persada Moro 38. Seluruh proses perencanaan akan tetap mengacu pada ketentuan serta mekanisme kerja sama yang berlaku di lingkungan Perum Perhutani.
Administratur Perhutani KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menyampaikan bahwa Perhutani pada prinsipnya terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama yang mampu memberikan nilai tambah bagi pengelolaan hutan, sepanjang tetap mengedepankan prinsip kelestarian.
“Perhutani menyambut baik rencana survei dan penjajakan kerja sama ini. Pengembangan pemanfaatan biomassa dari residu tebangan merupakan salah satu peluang dalam mendukung pengelolaan hutan yang lebih efisien, ramah lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan,” ujar Untoro.
Ia juga menambahkan bahwa integrasi antara pengembangan energi biomassa dengan kegiatan rehabilitasi lahan pasca tebang diharapkan dapat menciptakan model pengelolaan hutan yang berkelanjutan sekaligus mendukung upaya transisi menuju energi terbarukan.
Sementara itu, perwakilan dari Yayasan Persada Moro 38, Laksamana Prio Budie Leksono, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Perhutani KPH Purwodadi dalam mendukung rencana pengembangan program tersebut.
“Kami melihat kawasan hutan produksi memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi sirkular berbasis kehutanan. Melalui survei ini kami ingin mengidentifikasi potensi biomassa, residu tebangan, serta kemungkinan integrasi dengan sistem agroforestry sehingga dapat terbentuk ekosistem industri biomassa yang berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan industri biomassa berbasis kawasan hutan tidak hanya berpotensi menyediakan sumber energi terbarukan, tetapi juga dapat mendukung rehabilitasi lahan, meningkatkan efisiensi pemanfaatan hasil hutan, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Melalui sinergi ini diharapkan dapat terwujud model pengelolaan hutan produksi yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan energi bersih dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Editor : Aris